“Saya berharap ini keputusan terbaik untuk kita bersama. Saatnya kamu kembangkan kreatifitasmu demi dakwah ini.”
Ucapan Kyai Mustafa kemarin membuatku terhenyak seketika. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa akhirnya aku akan memulai dakwah di negeri nun jauh di sana. Negeri yang pernah tersapu oleh ombak tsunami lebih dari satu dekade yang lalu itu akan menjadi cerita baru untuk kehidupanku selanjutnya.
Ucapan Kyai Mustafa kemarin membuatku terhenyak seketika. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa akhirnya aku akan memulai dakwah di negeri nun jauh di sana. Negeri yang pernah tersapu oleh ombak tsunami lebih dari satu dekade yang lalu itu akan menjadi cerita baru untuk kehidupanku selanjutnya.
Namun entah mengapa sulit sekali aku menerima keputusan ini. Aku baru
saja kembali dari Istanbul setelah menyelesaikan pendidikanku. Belum
sampai setahun aku berada dekat dengan keluarga dan sahabatku, kini aku
harus kembali mengikhlaskan diri untuk jauh dari mereka. Aku belum lama
terjun dalam dakwah di masjid samping rumahku. Satu hal yang pasti, aku
belum terlalu banyak makan asam garam apalagi untuk memimpin sebuah
pesantren tahfizhul quran.
Ternyata keputusan ini juga membuat keluargaku kaget bukan kepalang.
Tidak diragukan lagi, ibuku-lah yang paling merasakan kegundahan dan
keresahan di hatinya. Rasanya belum hilang kerinduan kepada putra
bungsunya ini, malah harus ditambah lagi dengan hantaman-hantaman rindu
yang siap menanti di hadapannya.
“Nak, haruskah kamu yang pergi ke sana? Atau tidak adakah tempat lain
yang lebih dekat, agar kamu bisa sering-sering mengunjungi ibu di
sini?” tanya ibuku.
“ALLAH sudah tetapkan aku terlahir dari rahim ibu! ALLAH juga yang memilihku sekarang untuk dakwah di Aceh, Bu! Kyai Mustafa tidak pernah memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang.” jawabku.
Ibu terdiam sejenak. Aku langsung menundukkan wajahku setelah aku melihat bening air mata mengalir perlahan membasahi pipi ibuku. Aku tidak tahan melihat ibu menangis seperti itu. Aku juga takut kalau-kalau ibu tetap bersikukuh menahanku pergi untuk tugas baruku itu.
“Ibu titipkan kamu kepada ALLAH, Nak! Pergilah demi keridhoan ALLAH! Ibu cuma bisa berdoa untukmu.”
Sesaat aku membisu. Hatiku bergetar hebat. Benarkah yang baru saja aku dengar? Semudah inikah ibu mengizinkan aku untuk pergi lagi dari sisinya? Aku kembali menatap wajah teduhnya. Ah, kedua matanya… Tidak terbilang sudah berapa banyak aku membuatnya menitikkan air mata. Terkadang air mata kesedihan, terkadang pula air mata haru bahagia. Kemudian aku lihat ibu mulai menggerakkan bibirnya, memaksakan sebuah senyuman.
“Kamu yang akan menjadi penolong ibu, bapak dan kakak-kakakmu kelak, Nak. Ibu tidak mengharapkan harta dunia darimu. Ibu hanya mengharapkan kamu dapat menjadi pencerah bagi orang di sekitarmu.”
Aku merasakan sejuknya kata-kata ibuku memenuhi relung-relung jiwaku. Keraguan itu telah berubah menjadi sebuah keyakinan kuat yang akan menjadi modal terbesarku untuk mengarungi samudra dakwah di Bumi Serambi Mekkah nanti. Aku tidak lagi bisa berkata apa-apa. Tangisku pecah menyatu dengan tangis ibuku. Mengalun seirama mengiringi kepergianku untuk menyemarakkan dakwah di bumi pertiwi.
“ALLAH sudah tetapkan aku terlahir dari rahim ibu! ALLAH juga yang memilihku sekarang untuk dakwah di Aceh, Bu! Kyai Mustafa tidak pernah memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang.” jawabku.
Ibu terdiam sejenak. Aku langsung menundukkan wajahku setelah aku melihat bening air mata mengalir perlahan membasahi pipi ibuku. Aku tidak tahan melihat ibu menangis seperti itu. Aku juga takut kalau-kalau ibu tetap bersikukuh menahanku pergi untuk tugas baruku itu.
“Ibu titipkan kamu kepada ALLAH, Nak! Pergilah demi keridhoan ALLAH! Ibu cuma bisa berdoa untukmu.”
Sesaat aku membisu. Hatiku bergetar hebat. Benarkah yang baru saja aku dengar? Semudah inikah ibu mengizinkan aku untuk pergi lagi dari sisinya? Aku kembali menatap wajah teduhnya. Ah, kedua matanya… Tidak terbilang sudah berapa banyak aku membuatnya menitikkan air mata. Terkadang air mata kesedihan, terkadang pula air mata haru bahagia. Kemudian aku lihat ibu mulai menggerakkan bibirnya, memaksakan sebuah senyuman.
“Kamu yang akan menjadi penolong ibu, bapak dan kakak-kakakmu kelak, Nak. Ibu tidak mengharapkan harta dunia darimu. Ibu hanya mengharapkan kamu dapat menjadi pencerah bagi orang di sekitarmu.”
Aku merasakan sejuknya kata-kata ibuku memenuhi relung-relung jiwaku. Keraguan itu telah berubah menjadi sebuah keyakinan kuat yang akan menjadi modal terbesarku untuk mengarungi samudra dakwah di Bumi Serambi Mekkah nanti. Aku tidak lagi bisa berkata apa-apa. Tangisku pecah menyatu dengan tangis ibuku. Mengalun seirama mengiringi kepergianku untuk menyemarakkan dakwah di bumi pertiwi.
Setelah seminggu aku menikmati waktuku bersama keluarga, tibalah
saatnya aku melangkahkan kaki menuju Aceh. Aku belum bisa membayangkan
seperti apakah suasana Aceh. Masyarakatnya, cuacanya atau bahkan kondisi
alamnya. Aku jadi teringat tentang konflik antara pemerintah Indonesia
dengan GAM yang telah berakhir sekitar 8 tahun yang lalu. Sekilas timbul
keresahan di dalam hatiku. Masihkah ada bekas-bekas konflik itu?
Barangkali masih ada beberapa oknum yang tidak menyetujui perjanjian
damai yang telah disepakati dan hingga kini masih menyebarkan teror dan
ancaman di sana-sini. Ah, segera aku buang prasangka itu jauh-jauh.
Bukankah aku pergi dengan niat untuk mensyiarkan agama ALLAH? Maka apa
yang mesti aku takuti jika ALLAH-lah yang menjadi pelindungku?
Setelah 4 jam aku berada di dalam pesawat, akhirnya tibalah aku di
tanah rencong. Aku begitu terkesan saat melihat bandara Sultan Iskandar
Muda yang dengan keelokan kubahnya seolah menyajikan sebuah sambutan
mewah nan istimewa. Sawah-sawah hijau yang membentang pun seakan ingin
sekali memberikan pelukan hangat kepada tamu barunya ini. Pohon-pohon
kelapa juga tak mau kalah melambai-lambaikan daunnya seraya menyuguhkan
salam yang membuat hatiku begitu damai. Suatu kedamaian yang belum
pernah aku rasakan sebelumnya.
Saat bertemu dengan sahabat-sahabat dakwahku, aku merasakan sebuah
kebahagiaan yang berbeda. Ya, sekali lagi ku katakan; sebuah
kebahagiaan. Aku bahagia karena ALLAH telah memilihku untuk tugas ini,
bersama dengan mereka; mujahid-mujahid yang rela meninggalkan keluarga
dan kampung halamannya demi mendapatkan keridhoan ALLAH. Ah, aku jadi
semakin tidak sabar untuk “bercanda ria” dengan aneuk-aneuk Atjeh,
berbagi pengalaman tentang makna kehidupan.
Cerpen Karangan: Ilham Fachri
Facebook: mamurfisabilillah
Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Turki Sulaimaniyah Aceh yang berada di bawah naungan United Islamic Cultural Center of Indonesia Foundation, lembaga yang berkomitmen memberikan pendidikan agama dan pembinaan akhlaq bagi generasi muda Indonesia secara GRATIS. Penulis dapat dihubungi melalui email; fachri_turki[-at-]yahoo.co.id atau info.letsaceh[-at-]gmail.com
Facebook: mamurfisabilillah
Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Turki Sulaimaniyah Aceh yang berada di bawah naungan United Islamic Cultural Center of Indonesia Foundation, lembaga yang berkomitmen memberikan pendidikan agama dan pembinaan akhlaq bagi generasi muda Indonesia secara GRATIS. Penulis dapat dihubungi melalui email; fachri_turki[-at-]yahoo.co.id atau info.letsaceh[-at-]gmail.com


Tidak ada komentar :
Posting Komentar