Embun pagi belum sepenuhnya lenyap dari pandangan mata. Tapi aku
sudah menapaki jalan yang panjang, dengan baju batik khas SMP Ku aku
berangkat menuju sekolahku. Jalanan yang sepi itu baru dilewati beberapa
petani yang akan mengerjakan sawahnya. Aku mengenal Ardian belum lebih
dari enam bulan. Tapi persahabatanku dengannya mengalahkan kuatnya
rantai baja. Ardian, dia sosok yang sangat baik menurutku, anaknya asyik
pula. Tapi, entah apa yang dulu membuat aku bisa bersahabat dengannya,
mungkin itulah jalan Tuhan, rencanaNya lebih indah dari apa yang kita
rencanakan.
“Ita!” teriak Ardian ketika aku baru sampai di gerbang sekolah.
Yap, namaku Ita Allisia, aku biasa dipanggil Ita. Ardian melambaikan tangannya ke arahku. Dengan setengah berlari aku mendekatinya di bawah pohon rindang di taman sekolah. “baru dateng nih?” tanyanya
“tanya beneran apa basa-basi nih? Jelas-jelas barusan aku masuk gerbang,” ucapku sambil tersenyum menyelidik,
Yap, namaku Ita Allisia, aku biasa dipanggil Ita. Ardian melambaikan tangannya ke arahku. Dengan setengah berlari aku mendekatinya di bawah pohon rindang di taman sekolah. “baru dateng nih?” tanyanya
“tanya beneran apa basa-basi nih? Jelas-jelas barusan aku masuk gerbang,” ucapku sambil tersenyum menyelidik,
“hehe, basa-basi aja sih,” katanya.
“huu… Ngapain tadi manggil-manggil?”
“mau ngasih kabar”
“kabar apaan? Kalo ngomong jangan setengah-setengah dong,” ucapku dengan penuh penasaran.
“hehhe, Hmm… Aku balikan lagi sama Winda,” jawab Ardian.
Aku merasa hatiku tertusuk hunusan pedang Es, dingin, sakit dan langsung membeku, tanpa ada sepatah kata pun yang bisa terucap. Yang jelas aku belum pernah merasakan sakit hati sampai seperti ini. Apa artinya? Apa aku suka sama Ardian?
“wah, congrats yaa… Semoga dia nggak ngulangin kesalahannya lagi. Jadi kan kamu nggak disakitin dia terus-terusan” aku berusaha mengkondisikan emosiku pagi itu. Dengan air mata yang mengantri ingin keluar dari pelupuk mata, aku mencari alibi-alibi yang bisa membawaku pergi dari kondisi yang menyakitkan hati seperti ini. Di kelas, aku terdian seribu bahasa.
Malamnya aku menangis sejadi-jadinya. Entah sudah berapa liter air
mata yang keluar. Hingga aku harus mengkompres mataku yang sembab sisa
menangis semalam dengan air Es ketika hendak ke sekolah. Yah, meski
masih tersisa lebaman-lebaman air mata di pelupuk mataku. “aku harus
kuat, nggak boleh nangis. Ardian itu sahabatku, nggak lebih,” aku
meyakinkan diriku sendiri.
Seperti biasanya, aku telah tiba di sekolah ketika embun pagi belum
semuanya hilang dari permukaan daun. Dan, kenapa aku harus bertemu
dengan Ardian di gerbang sekolah? “Ardian,” aku berbisik lirih pada
diriku sendiri. Aku tak sanggup berucap banyak hal lagi. Satu hal yang
dapat aku lakukakn saat ini. Berlari. Dengan kekuatan yang belum
terkumpul sepenuhnya aku mencoba berlari. Namun sepertinya aku kalah
sigap dari Ardian, tanggannya berhasil mengapaiku. “Ta, kamu kenapa?”
tanya Ardian tiba-tiba.
“Nggak papa kok, permisi…” jawabku singkat.
“Ta, tunggu!” Ardian berusaha mengejarku. Dan lagi-lagi dia berhasil mengejarku.
“Ta, kamu jujur deh sama aku, apa sih yang kamu sembunyiin? Trus kenapa mata kamu sembeb gitu? Kamu abis nangis yaa?” ucap Ardian dengan penuh khawatir.
“Enggak papa kok, Di. Aku baik-baik aja…”
“Ta, kita udah lama sahabatan. Aku tau perubahan sikap kamu. Aku ngerasain perubahan itu!”
“mungkin ketika waktu telah lelah menyimpan rahasia ini, kamu bakalan tau sendiri, Di. Beri kesempatan ‘waktu’ untuk ikut andil dalam kisah kita, kamu tenang aja, Di. Aku nggak papa kok,” jawabku sembari meninggalkan Ardian.
“Nggak papa kok, permisi…” jawabku singkat.
“Ta, tunggu!” Ardian berusaha mengejarku. Dan lagi-lagi dia berhasil mengejarku.
“Ta, kamu jujur deh sama aku, apa sih yang kamu sembunyiin? Trus kenapa mata kamu sembeb gitu? Kamu abis nangis yaa?” ucap Ardian dengan penuh khawatir.
“Enggak papa kok, Di. Aku baik-baik aja…”
“Ta, kita udah lama sahabatan. Aku tau perubahan sikap kamu. Aku ngerasain perubahan itu!”
“mungkin ketika waktu telah lelah menyimpan rahasia ini, kamu bakalan tau sendiri, Di. Beri kesempatan ‘waktu’ untuk ikut andil dalam kisah kita, kamu tenang aja, Di. Aku nggak papa kok,” jawabku sembari meninggalkan Ardian.
Sudah hampir sebulan aku jarang komunikasi dengan Ardian. Entah apa
maksud Ardian hari ini. Tiba-tiba saja dia mengajakku pergi ke suatu
tempat, yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Taman ini sungguh
indah. Lebih indah karena banyak sekali bunga-bunga yang tersusun rapi,
membentuk sebuah simbol yang pasti tidak asing lagi bagi para remaja.
Love. “Kamu suka itu Ta?” ucap Ardian ketika ia mengajakku duduk di
bangku taman bercat putih itu.
“Tentu. Ini adalah taman paling indah yang pernah aku kunjungi,” jawabku jujur. Dan entah apa tujuan Ardian mengajakku kesini.
“Kamu suka mawar itu, Ta?” Lagi-lagi Ardian bertanya kepadaku.
“iya aku suka…” jawabku.
“Tentu. Ini adalah taman paling indah yang pernah aku kunjungi,” jawabku jujur. Dan entah apa tujuan Ardian mengajakku kesini.
“Kamu suka mawar itu, Ta?” Lagi-lagi Ardian bertanya kepadaku.
“iya aku suka…” jawabku.
Ardian kemudian pergi memetik mawar itu dan… “Kamu mau nggak, Ta jadi
kekasihku? Aku pengen kita lebih dari sahabat,” ucapan Ardian membuat
tubuhku kaku seketika. Bingung akan jawaban apa yang akan aku lontarkan.
Tapi, mungkin jawaban ini lebih baik.
“Sebelumnya, aku juga sempat memiliki hal yang sama seperti kamu. Bahkan sampai detik ini perasaanku ke kamu nggak berubah. Tapi, aku belum siap jika suatu saat aku bakalan kehilangan kamu. Di usia kita yang masih Junior seperti ini, persahabatan itu hubungan yang paling baik. Aku nggak mau, kalo kita pacaran, trus nanti putus, kita jadi kaya orang ngga kenal. Suatu saat, kalo kita ditakdirkan bersama, kita pasti akan bersama lebih dari seorang sahabat,” ucapku.
“jadi?”
“jadi kita bersahabat aja dulu, Di. Allah punya rencana yang lebih indah buat kita…” Rasanya setelah aku mengetahui apa yang Ardian pendam selama ini, aku jadi lega. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi untuk kali ini, aku lebih memilih bersahabat saja…
“Sebelumnya, aku juga sempat memiliki hal yang sama seperti kamu. Bahkan sampai detik ini perasaanku ke kamu nggak berubah. Tapi, aku belum siap jika suatu saat aku bakalan kehilangan kamu. Di usia kita yang masih Junior seperti ini, persahabatan itu hubungan yang paling baik. Aku nggak mau, kalo kita pacaran, trus nanti putus, kita jadi kaya orang ngga kenal. Suatu saat, kalo kita ditakdirkan bersama, kita pasti akan bersama lebih dari seorang sahabat,” ucapku.
“jadi?”
“jadi kita bersahabat aja dulu, Di. Allah punya rencana yang lebih indah buat kita…” Rasanya setelah aku mengetahui apa yang Ardian pendam selama ini, aku jadi lega. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi untuk kali ini, aku lebih memilih bersahabat saja…
Cerpen Karangan: Hesta Anggia Sari
Facebook: Hesta Anggia Sari
Aku suka menulis cerpen. :)
kritikan dari pembaca membuat aku bisa memperbaiki kekurangan dalam cerpenku… :)
Facebook: Hesta Anggia Sari
Aku suka menulis cerpen. :)
kritikan dari pembaca membuat aku bisa memperbaiki kekurangan dalam cerpenku… :)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar